Rabu, 13 Desember 2017

Contoh Kasus dan Dampak Pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual


1.   Hak Cipta
Contoh Kasus : Mendownload Film Gratis
Dampak Pelanggaran:
Sangat banyak layanan download film gratis di internet. Baik itu lewat blog ataupun website. Kegiatan men-download film secara gratis merupakan tindakan melanggar hukum. Berdasarkan Pasal 12 ayat (1) huruf k UUHC, salah satu ciptaan yang dilindungi adalah sinematografi, termasuk film dokumenter, film iklan, reportase, atau film cerita, dan film kartun yang dapat dibuat dalam media yang memungkinkan pertunjukan di bioskop, layar lebar, televisi, atau media lainnya. Sebab film dilindungi oleh UUHC, maka perbanyakan film harus dilakukan seizin pencipta atau pemegang hak cipta. Jika mengunduh film dilakukan tanpa izin, maka termasuk pelanggaran hak cipta dan dapat dikenakan sanksi pidana.
2.   Hak Paten
Contoh Kasus : Pertarungan Antara Apple dan Samsung
Dampak Pelanggaran:
Baru-baru ini, pertarungan hak paten antara Samsung dengan Apple di pengadilan nampaknya semakin meluas. Terlebih setelah pernyataan terbaru dari perusahaan yang didirikan oleh Steve Jobs tersebut. Apple mengatakan bahwa pemicu dari banyaknya pertikaian paten yang melibatkan Apple tak lain dan tak bukan adalah OS Android. Di pasaran saat ini banyak sekali beredar smartphone yang berbasis Sistem Operasi Android dan ditengarai banyak meniru produk keluaran Apple.
Dilihat dari pihak Samsung sendiri, perusahaan yang berbasis di Cupertino tersebut telah menyiapkan dokumen sebanyak 67 halaman sebagai bukti untuk melawan argumen-argumen yang dikeluarkan oleh musuhnya tersebut. Namun, dokumen-dokumen tersebut ternyata tidak hanya melibatkan Samsung sebagai pihak tertuduh pelanggaran hak paten. Beberapa produsen Android lain pun termasuk di dalamnya.
“Apple telah mengidentifikasi lusinan contoh dimana Android digunakan atau menjadi pemicu perusahaan lain untuk memakai teknologi yang telah dipatenkan Apple,” tulis sebuah kalimat dalam dokumen tersebut. Dokumen tersebut sebenarnya telah diperlihatkan kepada Samsung pada Agustus 2010.
Namun ada yang menarik di balik perang paten tersebut, ternyata ada hubungan mesra dalam bisnis hardware  di antara keduanya. Perlu diketahui, bahwa Apple merupakan pelanggan terbesar Samsung. Beberapa perangkat penting iPad dan iPhone, diproduksi oleh Samsung. Selain itu, Apple membeli panel LCD, flash memory, dan prosesor dari Samsung. Keputusan perang paten di AS, sedikit banyak akan mempengaruhi hubungan bisnis jangka panjang antara kedua perusahaan  menginta semakin rumitnay kasus tersebut bergulir dan belum adanya titik temu diantara kedua belah pihak yang berseteru.
Analisis dari kasus tersebut adalah seharusnya Hak khusus pemegang paten untuk melaksanakan temuannya secara perusahaan atas patennya baik secara sendiri maupun dengan memberikan persetujuan atau ijin atau lisensi kepada orang lain, yaitu: membuat, menjual, menyewakan, menyerahkan, memakai, menyediakan, untuk dijual atau disewakan atau diserahkan hasil produksi yang diberi paten. Hak ini bersifat eksklusif, dalam arti hak yang hanya bisa dijalankan oleh orang yang memegang hak paten, orang lain dilarang melaksanakannya tanpa persetujuan pemegang paten.
3.   Hak Merk
Contoh Kasus : Merk Tupperware Vs Tulipware di Bandung
Dampak Pelanggaran:
Merek TUPPERWARE sudah terdaftar di Indonesia dibawah no. pendaftaran 263213, 300665, 300644, 300666, 300658, 339994, 339399 untuk jenis-jenis barang seperti tersebut diatas, sedangkan merek TULIPWARE baru mengajukan permintaan pendaftaran merek pada Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual. Produk produk rumah tangga yang diproduksi oleh DART INDUSTRIES INC. telah dipasarkan di lebih dari 70 negara dengan memakai merek TUPPERWARE. TUPPERWARE juga telah dipasarkan di luas di Indonesia melalui Distributor Nasional sekaligus penerima lisensi, yakni PT. IMAWI BENJAYA. Bentuk pelanggaran yang dilakukan adalah:
a.     Persamaan pada pokoknya antara merek TULIPWARE dengan TUPPERWARE untuk produk-produk yang sejenis
b.     Penempatan merek pada bagian bawah wadah dan bentuk tulisan yang sama lebih dominan, sehingga menonjolkan unsur persamaan dibandingkan perbedaannya. Keberadaan produk-produk sejenis yang menggunakan merek TUPPERWARE dan TULIPWARE membingungkan dan mencaukan konsumen mengenai asal-usul barang.
c.     Merek TULIPWARE yang dipergunakan pada barang-barang berbeda dengan etiket merek yang diajukan permohonannya pada Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual.
4.   Desain Industri
Contoh Kasus : Kaca Helm Bogo
Dampak Pelanggaran:
Desain helm bogo dipegang oleh Toni dengan nomor registrasi ID 0012832 D. Toni memegang hak desain tersebut untuk periode 3 Agustus 2007 hingga 3 Agustus 2017. Belakangan, Toni kaget karena helm bogo beredar di Bogor yang diproduksi oleh Gunawan. Akibatnya, Toni mengalami kerugian mencapai Rp 700 juta sehingga Toni mengambil langkah hukum dengan mempolisikan Gunawan. Mau tidak mau, Gunawan duduk di kursi pesakitan "Menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar pasal 54 ayat 1 Jo Pasal 9 UU Nomor 31 Tahun 2001 tentang Desain Industri. Menghukum terdakwa dengan hukuman 1 tahun penjara.
5.   Indikasi Geografis
Contoh Kasus : Kasus Kopi Arabika Gayo
Dampak Pelanggaran:
Kopi Arabika Gayo yang diproduksi di Dataran Tinggi Gayo (Aceh) oleh masyarakat setempat adalah salah satu kopi arabika terbaik di dunia. Reputasi dari kopi arabika ini sudah lama dikenal di pasar kopi internasional, dan tentu nama Kopi Gayo (Gayo Coffee) ‘sangat menjual’ dalam perdagangan kopi dunia. Tanggal 15 Juli 1999 perusahaan Belanda mendaftarkan nama “Gayo” sebagai merek dagang kopi mereka di Belanda. Akibatnya tidak ada perusahaan lain yang boleh menjual kopi gayo di Belanda juga di Indonesia yang merupakan asal dari kopi arabika gayo. Pengakuan nama gayo di perusahaan Belanda adalah suatu bentuk pelanggaran hak kekayaan intelektual atas indikasi geografis. Peraturan Pemerintah (PP) No. 51 Tahun 2007, Indikasi geografis didefinisikan sebagai suatu tanda dari produk yang dikarenakan pengaruh lingkungan geografisnya, baik itu faktor alam, faktor manusia, atau kombinasi dari keduanya, memberikan ciri dan kualitas khusus pada produk tersebut. Sederhananya, Indikasi geografis adalah nama geografis dari produk yang hanya bisa diproduksi pada suatu daerah geografis tertentu.
6.   Rahasia Dagang
Contoh Kasus   Sengketa Rahasia Dagang antara PT General Food   Industries dengan kedua mantan      karyawannya. 
Dampak Pelanggaran:
Sengketa rahasia dagang yang terjadi antara PT. General Food Industries dengan kedua mantan karyawannya yang berawal dari kedua mantan karyawannya yang berpindah tempat kerja di perusahaan saingan PT. GFI. Kedua karyawan tersebut menciptakan suatu produ yang sama dengan apa yang dilakukannya ditempatnya bekerja terdahulu. Setelah mengatahui hal tersebut maka PT general food mengajukan gugatan terhadap kedua karyawan tersebut dan juga PT. GFI. Rahasia dagang diatur dalam Undang-Undang No.30 Tahun 2000 Tentang Rahasia dagang. Dalam suatu kegiatan usaha pasti ada hal-hal yang dapat menimbulkan sengketa. Salah satu sengketa bisa terjadi akibat pelanggaran rahasia dagang. Jaksa penuntut umum menuntut kedua karyawan tersebut dengan pelanggaran rahasia dagang dan hakim telah memvonis kedua karyawan tersebut dengan hukuman pidana dua bulan penjara. Kedua terpidana tersebut di anggap telah melanggar pasal 17 Undang-Undang No.30 Tahun 2000 Tentang Rahasia Dagang, yaitu bahwa “tanpa hak telah menggunakan rahasia dagang pihak lain”.
7.   Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu
Contoh Kasus : Desain Usb Keluaran Intel
Dampak Pelanggaran:
Desain usb 3.0 keluaran intel jadi kontroversi, karena awalnya intel belum mau menjelaskan spesifikasi usb 3.0 itu..sehingga dianggap oleh para pesaingnya(AMD dan NVIDIA) akan melakukan monopoli.Dalam kasus ini AMD dan NVIDIA beserta SIS dan VIA sebagai salah satu brand dalam tidang Chipset akan mengalami kesulitan dan keterpurukan pada suatu saat ketika banyak orang menggunakan motherboard intel yang sudah support dengan USB 3.0, yang dimana serie dari USB ini, akan memberikan kepuasan lebih baik dari USB sebelumnya dalam men-service suatu periferal.
Oleh karena itu mereka,(VIA AMD NVIDIA dan SIS) akan merasa dimonopoli oleh intel lantaran teknologi terbaru dari USB telah di "pegang" oleh intel. Hal ini dapat dihapuskan jika saja intel hendak memberikan spesifikasi khusus untuk mereka, agar komponen-komponen yang mendukung USB 3.0 dapat bekerja pada Chipset- chipset mereka.. Tapi mereka juga mengancam bahwa mereka akan menciptakan port yang tidak kalah hebat dari 3.0 jika intel masih tetap tidak memberikan spesifikasi yang dimaksud..
Dalam hal ini Hak DTLST itu dimiliki oleh Intel atas usb 3,0, jadi pihak intel memiliki hak eksklusif yang dapat melarang pihak lain yang tanpa persetujuannya membuat memakai, menjual, mengimpor, mengekspor dan / atau mengedarkan barang yang didalamnya terdapat seluruh atau sebagian Desain yang telah diberi Hak DTLST, namun dikecualikan untuk kepentingan penelitian dan pendidikan sepanjang tidak merugikan kepentingan yang wajar dari pemegang DTLST.


Jumat, 01 Desember 2017

Analisis Standar Manajemen Mutu

Istilah kualitas sering diucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun dalam praktek, pengertian kualitas dapat beraneka ragam. Kualitas biasanya dinilai dari penampilan unjuk kerja, atau pemenuhan terhadap persyaratan. Suatu produk dikatakan berkualitas jika eksklusif, harganya mahal, memiliki ketelitian lebih tinggi, lebih tahan lama, lebih kuat, lebih menarik, atau lebih nyaman untuk digunakan. Kualitas dari sudut pandang orang perorang tentu berbeda, demikian pula kualitas dari sudut pandang konsumen dan produsen juga berbeda. Konsumen lebih berorientasi terhadap kesesuaiannya dengan kebutuhan dan penggunaan, sementara produsen lebih melihat pada kesesuaiannya dengan standar.

“Kualitas adalah derajat yang dicapai oleh karakteristik yang inheren dalam memenuhi persyaratan” (SNI 19-9000:2000).

Secara umum, kualitas barang dapat dilihat dari tiga dimensi utama berikut ini:
a. Kinerja (performance, operation) Dimensi utama yang banyak dipertimbangkan oleh konsumen adalah kinerja atau operasi produk. Misalkan, apakah tinta pulpen dapat keluar secara baik, lancar dan tidak luntur. Apakah kekuatan cahaya suatu lampu sesuai dengan spesifikasi yang dinyatakan dalam labelnya.
b. Keandalan (reliability, durability) Mencerminkan keandalan suatu produk, yaitu kepercayaan atas kemampuan atau ketahanannya. Apakah suatu disket komputer dapat menyimpan data dengan baik selama lima tahun, misalnya untuk penggunaan normal.
c. Kenampakan (appearance, features) Menunjukkan daya tarik suatu produk yang membedakannya dengan produk lain secara sepintas. Kenampakan sangat dipengaruhi oleh disain dan atribut lain dalam produk. Misalkan, radio mobil yang memiliki remote control, telepon genggam yang juga mempunyai fungsi kamera. 
d. Kesesuaian (conformance) Kesesuaian berhubungan dengan pemenuhan terhadap spesifikasi atau standar ditentukan. Misalkan, apakah suatu pipa PVC  memiliki diameter sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang bersangkutan. Apakah suatu lampu swa ballast telah memenuhi aspek safety seperti yang dipersayaratkan.

Terdapat delapan prinsip manajemen kualitas yang merupakan dasar ISO 9000, yang dapat digunakan oleh pimpinan puncak untuk memimpin organisasi ke  arah perbaikan kinerja, sebagai berikut :  Fokus pada pelanggan, Kepemimpinan, Pelibatan anggota, Pendekatan proses, Pendekatan sistem pada manajemen, Perbaikan berkesinambungan, Pendekatan fakta pada pengambilan keputusan, Hubungan yang saling menguntungkan dengan pemasok.

Pada prinsipnya ISO/TS-16949 sama dengan ISO-9001: sama sama berisi persyaratan-persyaratan untuk membangun sistem manajemen mutu. Persyaratannya-pun mengambil persyaratan ISO-9001 dengan tambahan tambahan yang disisipkan didalamnya. Perbedaanya ada pada 'bentuk', lingkup organisasi yang menjadi sasaran dan tingkat rincian persyaratan. Dalam 'bentuk', ISO-9001 adalah 'standard' sedang ISO-TS/16949 adalah 'Technical Specification'. Perbedaan bentuk ini tidak berpengaruh pada organisasi yang menerapkan tetapi berpengaruh pada proses penerbitan dan peninjauan kedua dokumen tersebut yang menjadi urusan komite terkait dalam 'International Organization for Standardization'

1. Hasil analisa diketahui bahwa kecacatan yang sering terjadi dalam jumlah belasan, namun pada tingkat kecacatan yang paling tinggi ada beberapa faktor, penerapan ISO 16949 ini lebih fokus terhadap proses produksi otomotif. Pada perakitan bolt hub tersebut, mempunyai standar dalam pengerjaan sesuai dengan ISO 16949, instruksi pekerjaan masih belum diperbaharui. ISO 16949 telah diterapkan sejak tahun 2009, namun proses aktual di lapangan belum sesuai dengan ISO 16949. Tindakan perbaikan dan pencegahan yang ada dibuat untuk menurunkan tingkat kecacatan yang terjadi, sehinga proses perakitan akan lebih cepat dan menghasilkan produk sesuai dengan target yang direncanakan. Perbaikan terus menerus dilakukan dengan cara memantau sumber daya manusia, material, mesin, metode dan lingkungan.

2. Tingkat kecacatan yang terjadi sebagian besar terjadi karena faktor manusia, perusahaan jarang memberi motivasi bagi karyawan yang baik dalam pekerjaannya. Setiap tahun diganti operator baru, dan mengadakan pelatihan kembali. Metode yang digunakan belum diperbaharui instruksi kerja, serta operator belum paham dalam memasukan data ke computer. Mesin-mesin yang belum dirawat sehingga tombol untuk menjalankan mesin rusak saat perakitan berlangsung. Pemberian tempat yang rapi serta lingkungan panas dan bising dirasakan oleh pekerja. Material yang dipasok dari Perusahaan pemasok belum ada instruksi kerja yang dibuat untuk pengecekan barang yang dipasok.


Rabu, 26 April 2017

PEMANFAATAN IPTEK TERHADAP LINGKUNGAN HIDUP


1.        PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kemajuan ilmu dan teknologi yang semula bertujuan untuk mempermudah pekerjaan manusia, tetapi kenyataannya teknologi telah menimbulkan keresahan dan ketakutan baru bagi kehidupan manusia. Ketakutan yang dirasakan oleh manusia akibat perkembangan teknologi ini disebabkan adanya kekhawatiran akan adanya penyalahgunaannya oleh orang yang tidak bertanggung jawaab.
Di era modern ini IPTEK telah berkembang pesat dan tidak lepas pula dengan hubungannya kehidupan manusia  sehari-hari. Dalam perkembangannya IPTEK telah menimbulkan berbagai dampak terhadap lingkungan hidup manusia, baik itu dampak positif maupun negatif. Oleh karena itu kita sebagai manusia harus dapat memanfaatkan IPTEK dengan sebaik-baiknya.


2.        PEMBAHASAN
Permasalahan Lingkungan Hidup
Permasalahan lingkungan hidup terjadi atas permasalahan lingkungan global dan sektoral. Contoh perrmasalahan lingkungan global adalah pertumbuan penduduk, penggunaan SDA yang tidak merata, perubahan cuaca global karena berbagai kasus pencemaran dan gaya hidup yang berlebihan, serta penurunan keanekaragaman hayati akibat perilaku manusia. Contoh pemasalahan sektoral, seperti yang terjadi di kawasan pertanian, hutan, pesisir laut dan perkotaan.
Masalah lingkungan yang dihadapi saat ini pada dasarnya adalah masalah ekologi manusia. Masalah itu timbul karena perubahan lingkungan yang menyebabkan lingkungan itu kurang sesuai lagi untuk mendukung kehidupan manusia. Apabila hal ini tidak segera diatasi pada akhirnya berdampak kepada tergantungnya kesejahteraan manusia.
Adapun usaha mengtasi permasalah lingkungan dilakukan dengan berbagai pendekatan. Pendekatan yang dibahas adalah cara ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi, penegak hukum dan etika lingkungan untuk mengatasi permasalahan yang kompleks diperlukan berbagai upaya pendekatan sekaligus yang sinergis.
Masalah pencemaran lingkungan hidup, secara telknis telah didefinisikan dalam UU No. 4 Tahun 1982, yakni masuknya atau dimasukannya makhluk hidup, zat, energy, dan atau komponen yang lain dalam lingkungan dan atau berubahnya tataan lingkungan oleh kegiatan manusia atau proses alam, sehingga kualitas lingkungan turun sampai tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat lagii berfungsi sesuai peruntukannya.

Dampak Perkembangan Teknologi Terhadap Lingkungan
Joseph Schumpeter (dalam Marchinelli dan Smelser,1990 :14-20) mengisyaratkan tentang pentingnya inovasi dalam proses pembangunan ekonomi di suatu negara. Dalam hal ini, pesatnya hasil penemuan baru dapat dijadikan sebagai ukuran kemajuan pembangunan ekonomi suatu bangsa. Dari berbagai tantangan yang dihadapi dari perjalanan sejarah umat manusia, kiranya dapat ditarik selalu benang merah yang dapat digunakan sebagai pegangan mengapa manusia “survival” yaitu oleh karena teknologi.
Teknologi yang diandalkan sebagai istrumen utama dalam “revolusi hijau” mampu meningkatkan hasil pertanian, karena adanya bibit unggul, bermacam jenis pupuk yang bersifat suplemen, pestisida dan insektisida. Dibalik itu, teknologi yang sama juga menghasilkan berbagai jenis racun yang berbahaya bagi manusia dan lingkungannya, bahkan akibat rutinnya digunakan berbagi jenis pestisida ataupun insektisida mampu memperkuat daya tahan hama tananam misalnya wereng dan kutu loncat.
Teknologi memungkinkan negara-negara tropis (terutama negara berkembang) untuk memanfaatkan kekayaan hutan alamnya dalam rangka meningkatkan sumber devisa negara dan berbagai pembiayaan pembangunan, tetapi akibat yang ditimbulkannya merusak hutan tropis sekaligus berbagai jenis tanaman berkhasiat obat dan beragam jenis fauna yang langka.
Terjadinya penurunan kualitas air permukaan di sekitar daerah-daerah industri. Konsentrasi bahan pencemar yang berbahaya bagi kesehatan penduduk seperti merkuri, kadmium, timah hitam, pestisida, pcb, meningkat tajam dalam kandungan air permukaan dan biota airnya. Kelangkaan air tawar semakin terasa, khususnya di musim kemarau, sedangkan di musim penghujan cenderung terjadi banjir yang melanda banyak daerah yang berakibat merugikan akibat kondisi ekosistemnya yang telah rusak.
Temperatur udara maksimal dan minimal sering berubah-ubah, bahkan temperatur tertinggi di beberapa kola seperti Jakarta sudah mencapai 37 derajat celcius. Terjadi peningkatan konsentrasi pencemaran udara seperti CO, NO2r S02, dan debu. Sumber daya alam yang dimiliki bangsa Indonesia terasa semakin menipis, seperti minyak bumi dan batubara yang diperkirakan akan habis pada tahun 2020. Luas hutan Indonsia semakin sempit akibat tidak terkendalinya perambahan yang disengaja atau oleh bencana kebakaran. Kondisi hara tanah semakin tidak subur, dan lahan pertanian semakin memyempit dan mengalami pencemara.


3.        PENUTUP
KESIMPULAN
Kemajuan ilmu dan teknologi yang semula bertujuan untuk mempermudah pekerjaan manusia, tetapi kenyataannya teknologi telah menimbulkan keresahan dan ketakutan baru bagi kehidupan manusia. Ketakutan yang dirasakan oleh manusia akibat perkembangan teknologi ini disebabkan adanya kekhawatiran akan adanya penyalahgunaannya oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Masalah prioritas model teknologi (iptek) apakah kompetitif (competitive) atau komparalif (comparative), teknokrat yang diwakili Widjojo Nitisastro cs dan Sumilro Djojohadikusumo, mengurutnya atas dasar teknik Delphi. Sedangkan B. J. habibie (Dewan Riset Nasional) merangkainya dengan konsep matriks (Anwar, Ibrahim M., 1987). Terlepas dari berbagai keberhasilan pembangunan yang disumbangkan oleh teknologi dan sektor indusri di Indonesia, sesungguhnya telah terjadi kemerosotan sumber daya alam dan peningkatan pencemaran lingkungan.
Kemajuan dalam berkomunikasi semain lama semakin mudah dan cepat. Hal ini terkait dengan perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat, informasi yang ingin disampaikan dari maupun kepada masyarakat pun akan semakin akurat dan cepat. Media-media yang berperan dalam pertukaran informasi tersebut antara lain adalah televisi, telepon genggam, email, instant message, video call, dsb. Kehidupan tiap individu dan teknologi informasi dalam masyarakat pun akan menjadi sangat erat hubungannya, karena dengan adanya media informasi tersebut kita akan semakin cepat mengetahui kabar terbaru dari lingkungan sekitar kita maupun semakin menambah wawasan kita terhadap berbagai pengetahuan umum yang ingin kita ketahui melalui perangakat informasi tersebut.


4.        DAFTAR PUSTAKA


5.        LAMPIRAN
Profil Penulis
Nama                    : Putra Sanada
NPM                    : 38414574
TTL                      : Bekasi, 20 Juli 1996


Selasa, 10 Januari 2017

Menghubungkan Manajemen Spare Parts dengan Jumlah Biaya Kepemilikan: Sebuah Agenda Riset Masa Depan

1. Perkenalan

     Total Biaya Biaya Kepemilikan (TCO) atau Biaya Life Cycle (LCC) sesuai dengan sistem manajerial yang difokuskan pada pemodelan, kuantifikasi dan kontrol dari semua biaya yang hadir selama fase desain aset fisik (sistem, garis atau komponen) tahap operasi atau eksploitasi dan berakhir dengan pembuangan aset. Serangkaian publikasi pada evaluasi total biaya kepemilikan aset industri dapat ditemukan dalam literatur sejak tahun 1970 (Kaufman, 1970; Ntuen, 1985; Taylor, 1981).
     Pada hari ini, penelitian ilmiah tentang TCO meningkat pentingnya (Thiede, Spiering & Kohlitz, 2012). Namun demikian, beberapa kesenjangan masih bisa diidentifikasi, misalnya, sebagian besar model biaya siklus hidup yang ada saat ini menganggap tidak ada pendekatan yang sistematis dan fragmentaris (Xu, Elgh & Erkoyuncu, 2013). Selain itu, ada kekurangan dari model biaya yang memadai yang memperhitungkan hubungan antara parameter kinerja sistem, dan biaya yang terlibat, dan kompleksitas konfigurasi sistem asset (Chen, Zheng, Feng & Li, 2013). Akhirnya, perhitungan biaya yang berkaitan dengan onderdil telah diabaikan oleh model-model TCO.

2. Tinjauan Literatur

     Total biaya kepemilikan merupakan perhatian utama selama siklus hidup aset fisik. Melalui penerapan model TCO, manajer akan meningkatkan keputusan mereka di seluruh siklus hidup aset. Menurut Hokstad (1998), untuk mendapatkan biaya siklus hidup total, perlu untuk memecahkan total biaya ke dalam serangkaian elemen biaya. Identifikasi unsur-unsur dan lingkup masing-masing perlu ditentukan mogok total biaya. Roda dan Garetti (2015) mengusulkan penggunaan Struktur Breakdown Biaya untuk mendukung penilaian TCO. Dalam makalah ini kami menyarankan tiga dimensi: kategori biaya, tingkat indenture rendah produk dan waktu dalam siklus hidup ketika pekerjaan / kegiatan yang akan dilakukan. Demi relevansi, kami akan berkonsentrasi pada dimensi ketiga. fase siklus hidup juga akan diperhitungkan sebagai kategori biaya akan membedakan antara:
• biaya investasi (sebelum memulai operasi) dan
• pemeliharaan / operasi dan biaya "risiko" yang terjadi secara teratur selama operasi.

3. Contoh Keputusan Parts Manajemen Spare

     Jelas serangkaian keputusan contoh tentang onderdil yang hadir selama siklus hidup aset. Kami mencari untuk masalah ini sesuai perspektif pengguna / operator sebagai salah satu yang diusulkan oleh Roda dan Garetti (2014). Berikut ini, kita membahas secara singkat beberapa contoh-contoh keputusan dan mengidentifikasi fase siklus kehidupan yang setiap contoh keputusan terkait dengan.
     Salah satu keputusan yang paling penting yang terkait dengan rantai bagian pasokan spare adalah pemilihan supplier dan penyediaan awal. seleksi yang terkait dengan serangkaian logistik, operasional dan keadaan ekonomi. Terutama, aspek logistik pertimbangkan kali memimpin, ruang yang tersedia, lokasi peralatan, dll dapat mempengaruhi biaya sepanjang siklus hidup aset '. Pan (2015) mengusulkan sebuah model pemrograman matematika dari pemilihan vendor untuk pengadaan bersama dari biaya total perspektif kepemilikan. Provisioning awal suku cadang pada saat instalasi peralatan harus didasarkan pada analisis kekritisan sebelumnya dan pada pemetaan kebutuhan pemeliharaan dan suku cadang konsumsi. pemetaan yang harus didasarkan pada literatur teknis tentang peralatan dan satu set keputusan kualitatif dengan mempertimbangkan rekomendasi produsen ', pengalaman sendiri atau dari pengguna peralatan lain. Dalam Yang dan Du (2004) metode evaluasi untuk memfasilitasi penyediaan awal dari suku cadang kritis yang memiliki dampak signifikan pada ketersediaan operasional dan biaya siklus hidup total yang diusulkan. Lendermann, Thirunavukkarasu, Low dan McGinnis (2012) diterapkan optimasi berbasis simulasi untuk masalah persediaan multi-lokasi dan menunjukkan bagaimana total biaya layanan siklus hidup dapat dikurangi tanpa meningkatkan risiko segera dari tahap Provisioning awal dengan menempatkan ke dalam kebijakan logistik yang tepat praktek.

4. Kerangka Usulan

     Gambar 5 menyajikan kerangka referensial, yang memungkinkan pembaca untuk mengeksplorasi hubungan antara fase siklus hidup dan hal-hal utama dalam onderdil. Kolom pertama menyebutkan tiga siklus hidup (L.C.) tahap: Mulailah Hidup (BOL), Tengah Kehidupan (MOL) dan End of Life (EOL) (Roda & Garetti 2014). Kolom kedua menunjukkan tahap keputusan utama yang terkait dengan masing-masing dari L.C. sistem fase. Namun, sesuai L.C. yang fase, kita mengidentifikasi di kolom ketiga keputusan suku cadang utama yang harus dilakukan selama L.C. masing tahap. Sepanjang siklus hidup seluruh, ada serangkaian kovariat eksternal yang dapat mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Yang bisa membuat manajer untuk mengubah beberapa karakteristik atau parameter dari sistem dalam semacam mekanisme revisi permanen. Di antara kovariat, kami menyebutkan proses kerusakan, kemajuan teknologi,
proyek standardisasi, dll

5. Kesimpulan

     Makalah ini mengusulkan sebuah kerangka kerja referensial untuk menghubungkan onderdil untuk total biaya kepemilikan dalam pengelolaan aset fisik. Kerangka kerja ini menggabungkan semua aspek yang relevan dari onderdil yang diberikannya pengaruh pada biaya kepemilikan dan membuka agenda penelitian mendatang. Secara khusus, langkah-langkah penelitian selanjutnya meliputi pertanyaan penelitian berikut:
• Bagaimana keputusan tentang penyediaan awal yang mempengaruhi TCO?
• Apakah kebijakan persediaan yang berbeda menyebabkan perubahan penting dalam perilaku TCO?
• Apa kombinasi yang optimal dari strategi perawatan dengan kebijakan persediaan yang menjamin hasil terbaik dari titik TCO pandang?
• Lakukan akhir kondisi kehidupan dan keputusan mempengaruhi perilaku TCO ini?
• Apa saja teknik terbaik untuk menjawab ini dan pertanyaan terkait lainnya?

     Dalam tahap kedua, efek dari perubahan lingkungan ke dalam TCO harus dimodelkan dan dianalisis. Secara khusus, kami percaya bahwa efek dari kesamaan / standarisasi komponen adalah masalah yang sangat menarik yang layak untuk menyelidiki.

PENGGUNAAN EFEKTIF DATA SEKUNDER



Dalam analisis data primer individu yang mengumpulkan data juga menganalisisnya untuk meta-analisis penyidik ​​kuantitatif menggabungkan hasil statistik dari beberapa studi fenomena untuk mencapai kesimpulan pada individu analisis data sekunder yang tidak terlibat dalam pengumpulan data menganalisis data. analisis data sekunder mungkin didasarkan pada data yang dipublikasikan atau mungkin didasarkan pada data asli. Kebanyakan penelitian kognisi hewan melibatkan analisis data primer sulit untuk mengidentifikasi yang berdasarkan meta-analisis, analisis data sekunder berdasarkan data yang dipublikasikan telah digunakan secara efektif, dan contoh yang diberikan dari penelitian John Gibbon pada teori waktu skalar. Analisis data sekunder juga dapat didasarkan pada data asli jika data asli yang tersedia di arsip.

Seperti arsip sebuah di bidang kognisi hewan ini layak dan diinginkan.

Elsevier Science (USA)

Kata kunci: analisis data sekunder; arsip data; kognisi hewan; analisis data primer; meta-analisis; Siamang; teori waktu skalar.

Kebanyakan penelitian dalam kognisi hewan dan perilaku didasarkan pada analisis data primer di mana penulis artikel mengumpulkan, serta menganalisis, data. Ada alasan baik untuk tradisi ini. Hal ini memungkinkan peneliti untuk merancang eksperimen yang paling tepat untuk hipotesis tertentu dalam penyelidikan, dan menyediakan penyidik ​​dengan pengetahuan langsung tentang kondisi percobaan dan perilaku hewan. Untuk analisis data primer, seorang penyidik
​​(1) mengidentifikasi masalah dan hypothesis
(2) berencana desain eksperimental sebagai metode untuk mengevaluasi hipotesis,
(3) mengumpulkan data
(4) merangkum data
(5) membuat kesimpulan dari data
(6) menafsirkan hasil.
Integrasi desain dan pengumpulan data eksperimen tahap dengan analisis data dan interpretasi tahap adalah ciri khas dari analisis data primer. Artikel berdasarkan analisis data primer mungkin memiliki pengaruh penting pada penelitian lebih lanjut. Apa dampak abadi sebuah artikel berdasarkan analisis data primer dapat diperkirakan dengan kutipan dari dalam artikel empiris berikutnya dan dalam tinjauan literatur. Artikel sebelumnya dapat disebut untuk negara-ment dari masalah, metode, hasil yang dipublikasikan, atau kesimpulan. Artikel selanjutnya jarang melibatkan analisis lebih lanjut dari data asli yang digunakan untuk hasil yang dipublikasikan.

Dalam '' analisis data sekunder, '' individu atau kelompok yang menganalisis data tidak terlibat dalam perencanaan percobaan atau pengumpulan data. Analisis tersebut dapat dilakukan berdasarkan informasi yang tersedia dalam informasi statistik dalam artikel yang diterbitkan, data yang tersedia dalam teks, tabel, grafik, dan lampiran dari artikel yang diterbitkan, atau pada data asli.

ANALISIS SEKUNDER HASIL DITERBITKAN
 
Dalam kedua penelitian dan artikel teoritis, John Gibbon membuat penggunaan efektif analisis sekunder hasil diterbitkan. Dia pertama kali menggambarkan '' skalar waktu '' dalam sebuah artikel di Journal of Psychology Matematika (Gibbon, 1971). Dalam satu sosok dia menunjukkan bahwa latency penghindaran re-sponding adalah fungsi linear dari durasi sinyal peringatan (lihat Gambar. 1). Dia menggunakan hasil dilaporkan empat percobaan (Anderson, 1969; Hyman, 1969; Kamin, 1954; Low & Low, 1962), menggambar ulang fungsi pada skala umum, dan mengedit data dalam satu kasus dengan menghilangkan data dari satu hewan yang menunjukkan efek rangka yang kuat. Dia menafsirkan linearitas fungsi dalam hal skalar waktu, dan mencegat positif dalam hal '' waktu bermotor dalam melaksanakan respon. '' Namun, ia mencatat bahwa bentuk distribusi waktu antar-respon yang jauh lebih ketat uji. Ini adalah pra-sumably karena ada lebih banyak cara untuk menghasilkan hubungan linear antara rata-rata latency dan durasi stimulus dari ada untuk menghasilkan identitas beberapa fungsi dari hasil yang diperoleh di bawah yang berbeda Condi-tions.
Dalam analisis data dari prosedur penghindaran Sidman di laboratorium dan di dua laboratorium lainnya (Anger, 1963; Verhave, 1959), Gibbon (1971) menunjukkan bahwa distribusi waktu interresponse untuk tikus tunggal pada interval re-tanggapan-shock yang berbeda pada dasarnya dari jenis yang sama ketika waktu itu ditingkatkan dalam satuan relatif. Ini adalah contoh dari apa yang kemudian disebut super-posisi dan skala waktu invarian. Karena data yang diterbitkan dari percobaan variabel-ous dilaporkan variabel dependen yang berbeda, Gibbon merasa perlu untuk menunjukkan linearitas dari latency dengan durasi stimulus atas dasar satu set percobaan dan efek superposisi pada set eksperimen.
Gibbon (1971) berasal solusi eksplisit untuk model mean antar-respon dan waktu intershock fungsi untuk beberapa jadwal menghindari bebas instrumental. Dalam satu sosok dia menunjukkan bahwa model yang disediakan cocok baik untuk data dari lima hewan individu dari empat percobaan yang berbeda (Clark & ​​Hull, 1966; Hake, 1968; Sidman 1953; Verhave, 1959). Meskipun percobaan ini melibatkan spesies yang berbeda (tikus, anjing, dan monyet) dan prosedur yang berbeda, Gibbon menunjukkan bahwa fungsi kuantitatif sederhana berdasarkan waktu skalar diterapkan untuk hasil dari mereka semua. Analisis ini diperpanjang dengan efek jumlah pengurangan kepadatan kejutan dalam sebuah artikel teoritis yang termasuk data dari eksperimen yang dipublikasikan orang lain (Gibbon, 1972). Pesan tertulis dari artikel ini adalah bahwa hal itu tidak diperlukan untuk merancang suatu eksperimen untuk menentukan apakah atau tidak kuantitatif prin-ciple berlaku. Keyakinan dalam keumuman prinsip mungkin dalam-berkerut oleh berbagai studi untuk yang berlaku dan fakta bahwa penulis tidak merancang percobaan untuk tujuan menggambarkan prinsip.

sumber: www.brown.edu